14 Mar 2021
Gali Jurus-Jurus Jitu Berniaga di Tengah Pandemi
Share

Kita sama-sama menyadari bahwa saat ini adalah fase bangkit dari kondisi akibat pandemi lalu. Meski dampaknya masih terasa, bisnis mestilah berjalan.

 

Pemerintah sendiri sudah menekankan perbaikan kondisi ini. Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam APBN menjadi perangkat untuk memastikan bahwa penanganan pandemi lebih efektif dan diwujudkan dengan berbagai fokus.

 

“Situasi saat ini sudah lebih baik karena kita sudah lebih memahami perkembangan COVID-19,” tutur Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (PKEM BKF) Hidayat Amir seperti dikutip publikasi Kementerian Keuangan.

 

Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi akan tumbuh di kisaran 4,5-5,5 persen year on year dengan titik tengah di angka 5 persen. Angka ini sejalan prediksi beberapa lembaga internasional, termasuk International Monetary Fund (IMF), World Bank, dan Asian Development Bank.

 

Dengan prediksi yang menyegarkan ini, tentu kita sebaiknya sama-sama bertahan demi berjalannya perniagaan secara berkelanjutan.

 

Yang menarik, seperti kita juga ketahui, justru beberapa lini bisnis justru bertumbuh di tengah pandemi. Oleh karenanya. menjadi jurus yang jitu jika pada akhirnya kita coba bergerak ke sisi lain yang lebih menjanjikan dan bertumbuh.

 

Sekadar contoh peralihan bisnis, hal ini juga dilakukan antara lain dilakukan oleh salah satu klien kami, PT Sumo Andalan Power. Supriyanto selaku owner dari PT Sumo Andalan Power menjalankan lini bisnis baru, yang uniknya dijalankan karena mendengarkan permintaan di luar usahanya.

 

"Pada awal mula, kami berkembang di bidang penjualan, servis, dan rental alat berat. Adanya permintaan untuk penyewaan truk dari kien kami membuat kami terjun di bidang trucking. Cukup membantu menaikkan pertumbuhan usaha perusahaan kami karena kebutuhan pasar yang berkembang pada dunia transportasi, terlebih pada logistik," ujarnya.

 

Pada akhirnya memang logistic tumbuh hijau di tengah masa pandemi. Data Kementerian Keuangan dikutip Tempo.co menyebut bahwa transaksi pembelian lewat e-commerce meningkat 18,1 persen menjadi 98,3 juta transaksi dengan total nilai transaksi naik 9,9 persen menjadi Rp 20,7 triliun.

 

Menggeliat dengan lini usaha baru, atau bisa juga bertahan dengan asset dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Bicara truk sebagai aset, penghematan operasionalnya juga menjadi jurus berniaga di tengah pandemi.

 

Teknologi common rail misalnya, operasional bahan bakar bisa dihemat, yang menurut pengakuan pengusaha pengguna Isuzu setidaknya mencapai 20 persen.

 

"Isuzu juga kan common rail gencar ya. Isuzu yang pertama. (Ini menarik bagi konsumen) karena konsumsi BBM-nya dan karena di jaringan Astra juga," ujar Tri Utomo dari PT Surya Putra Barutama.

 

Program-program aftersales lainnya, seperti perawatan, edukasi hingga bagaimana memaksimalkan keenokomian di perjalanan juga bisa dimanfaatkan. Sejatinya, energi mesti tetap terjaga sebab banyak aspek yang sebenarnya bisa menjadi jurus jitu di masa-masa seperti sekarang ini.

 



 
©Isuzu Astra Motor Indonesia, 2021 | Website Policy and Disclaimer