





Jakarta, 15 Mei 2026 - PT Isuzu Astra Motor Indonesia senantiasa memberikan yang terbaik agar bisa memenuhi kebutuhan pelanggan, termasuk spesifikasi kendaraan dengan dukungan mesin diesel modern. Inovasi Isuzu sebagai salah satu pioneer pengguna mesin diesel di segmen kendaraan niaga, terbukti bandel, irit, dan ramah lingkungan sesuai dengan perkembangan zaman.
Saat ini seluruh kendaraan Isuzu sudah menggunakan mesin diesel dengan teknologi Common Rail. Mesin ini mampu mengoptimalkan konsumsi bahan bakar dengan cara mengontrol injeksi bahan bakar secara lebih presisi. Sebagai hasilnya, mesin ini tidak hanya lebih hemat bahan bakar, tetapi juga menghasilkan emisi yang lebih rendah.
"Isuzu sudah menghadirkan teknologi Common Rail sejak 15 tahun lalu di Indonesia, dan terbukti bisa meningkatkan efisiensi bahan bakar serta menekan emisi gas buang. Teknologi ini berdampak secara langsung kepada bisnis pelanggan lebih menguntungkan dan hingga kini terus menjadi pilihan Isuzu Partner di berbagai daerah di Indonesia," ungkap Business Strategy Division Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Rian Erlangga.
Teknologi Common Rail bekerja dengan mengandalkan prinsip tekanan tinggi sehingga memberikan atomisasi bahan bakar yang lebih baik. Sistem jalur atau rel pipa bahan bakar, sehingga dinamakan common rail, memungkinkan pembagian suplai bahan bakar merata.
Selanjutnya, atomisasi bahan bakar didukung oleh katup solenoid (atau disebut juga piezoelektrik) yang memungkinkan terjadinya kontrol elektronik yang baik atas waktu dan kuantitas injeksi bahan bakar. Pada prosesnya, unit kontrol elektronik mesin menyuntikkan sejumlah kecil bahan bakar tepat sebelum peristiwa injeksi utama terjadi.
Dengan demikian, waktu penyuntikan bahan bakar menjadi efisien, jumlah bahan bakar yang disuntikkan juga efisien, sehingga terciptalah konsumsi bahan bakar yang irit. Secara bersamaan pula meminimalkan gas-gas buang yang sudah ditentukan pada batas standar Euro 4.
Iritnya teknologi Common Rail yang digunakan oleh Isuzu juga sudah terbukti efektivitasnya melalui pengujian internal Isuzu ELF NLR L dengan mensimulasikan sebuah perjalanan on-road selama 26 hari dengan jarak tempuh 450 km/hari, GVW Total kendaraan mencapai 5.400 kg, dan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis bio solar selama perjalanan. Alhasil Isuzu ELF NLR L menunjukkan efisiensi bahan bakar mencapai 8,6 km/liter, atau lebih irit 34,4%* jika dibandingkan kompetitor, dengan potensi penghematan BBM mencapai Rp3,1 juta*. (Angka yang didapatkan berdasarkan uji coba internal IAMI. Angka yang dihasilkan bisa berbeda tergantung pada situasi, kondisi jalanan, cara mengemudi, dll).
"Melalui penggunaan mesin yang sudah dilengkapi Common Rail, Isuzu ELF NLR L mampu menghadirkan efisiensi bahan bakar yang lebih optimal tanpa mengurangi performa kendaraan. Terbukti simulasi uji coba yang dilakukan oleh internal berdampak kepada biaya operasional yang lebih hemat hingga 25,6% per bulan, sehingga memberikan keuntungan lebih bagi pelaku usaha dalam meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional kendaraan, dan tentunya lebih ramah lingkungan karena irit bahan bakar," jelas Rian.
Tidak sekadar teknologi mesin modern, Rian juga menyebutkan penerapan eco driving selama perjalanan bisa memaksimalkan efisiensi bahan bakar. Dia kemudian menyebutkan ada beberapa teknik eco driving yang bisa diterapkan:
Hindari over-revving. Mesin diesel truk itu paling efisien di rentang torsi maksimalnya, bukan di RPM tinggi. Artinya, pindah gigi di momen yang tepat, jangan nunggu putaran mesin terlalu tinggi.
Pedal gas diinjak secara bertahap, bukan diinjak sedalam-dalamnya. Akselerasi mendadak membuat konsumsi BBM naik drastis dan mempercepat keausan komponen seperti kopling dan ban.
Lihat kondisi jalan jauh ke depan. Jikalau ada lampu merah atau kemacetan di depan, lepas pedal gas lebih awal dan manfaatkan engine brake.
Gunakan engine brake untuk membantu deselerasi. Selain membuat irit BBM, engine brake juga membantu kinerja rem lebih ringan serta memperpanjang umur kampas rem.
Kecepatan stabil itu kunci utama efisiensi. Biarkan mesin bekerja secara konstan agar pembakaran bahan bakar bisa dilakukan secara efisien.
Mesin nyala tanpa jalan itu hanya membuang-buang solar. Jika berhenti lebih cukup lama, lebih dari 10 menit, lebih baik matikan mesin.
Overload atau distribusi beban yang nggak merata membuat mesin kerja lebih keras dan handling jadi buruk. Ini bukan cuma soal efisiensi, tapi juga safety.
Pastikan tekanan angin di ban sesuai dengan rekomendasi pabrik. Ban dengan tekanan angin yang kurang membuat kendaraan lebih berat, dan akhirnya berpengaruh terhadap kinerja mesin lebih keras.
Semakin tinggi gigi, semakin rendah RPM, selama masih di zona torsi optimal, dan membuat hemat bahan bakar.